Bahasa jurnalistik adalah bahasa yang digunakan oleh wartawan atau media massa untuk menyampaikan informasi. Bahasa jurnalistik adalah bahasa dengan ciri-ciri khas yang memudahkan penyampaian berita dan komunikatif. Bahasa jurnalistik adalah bahasa yang digunakan dalam dunia jurnalistik.
Read More ..
Sabtu, 18 April 2020
Bahasa adalah Senjata, Kata-kata adalah Pelurunya
Sabtu, 10 Oktober 2015
Jasa Media Cetak sebagai Dokumen Sejarah
Sebagai mantan wartawan harian Pedoman Rakyat (masuk 1992 dan tetap bertahan sebagai wartawan Pedoman Rakyat hingga 2007 saat koran tersebut berhenti terbit), saya tentu saja senang dapat melihat tampilan terbitan lama Pedoman Rakyat dan mendapat informasi mengenai isi beritanya pada edisi 15 Juni 1953.
Read More ..
Senin, 20 April 2015
Wartawan Wajib Memiliki Kode Etik Jurnalistik
DIREKTUR Perpustakaan Pers PWI Sulsel yang juga Pemimpin Redaksi Majalah "Almamater", Asnawin Aminuddin, membawakan materi Kode Etik Jurnalistik, pada Pelatihan Jurnalistik yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, di Sekretariat HMI Makassar, Jalan Botolempangan Makassar, Ahad, 29 Maret 2015. (ist)
Read More ..
Rabu, 29 Oktober 2014
Humas Harus Pelajari Gaya Pemberitaan Media Massa
DIREKTUR Perpustakaan Pers PWI Sulsel, Asnawin (paling kiri) tampil sebagai pembicara bersama Ketua Komisi Informasi Provinsi Sulsel, Aswar Hasan (paling kanan), dengan moderator Kabid Informasi dan Telematika Dinas Perhubungan Kabupaten Gowa HM Arifin, pada Pertemuan Bakohumas Lintas SKPD se-Kabupaten Gowa, di Gowa, Rabu, 29 Oktober 2014. (Foto: ist)
Read More ..
Minggu, 26 Oktober 2014
Koran-koran Besar pun Kerap Bikin Kesalahan
PELATIH Nasional Wartawan PWI, Asnawin, membawakan materi Editing News (Penyuntingan Berita) pada Pelatihan Jurnalistik Bagi Kepala Sekolah dan Guru SMP se-Sulsel, di Hotel Grand Palace, Makassar, Sabtu, 25 Oktober 2014.
Read More ..
Senin, 20 Oktober 2014
Wartawan dan Guru Bukan Profesi
PELATIH Nasional Wartawan PWI, Asnawin, membawakan materi "Pengantar Jurnalistik" pada Perkampungan Jurnalistik yang digelar Himaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, di Asrama Yonif 726 Takalar, Jumat, 17 Oktober 2014. (ist)
Read More ..
Minggu, 25 Mei 2014
Senang Berpetualang dan Ingin Jadi Polwan
Inayah Januarti sebenarnya bercita-cita menjadi polisi wanita atau Polwan, namun tidak mendapat restu dari orangtuanya. Akhirnya dia memutuskan kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, dengan mengambil Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pikirnya menjadi seorang guru adalah pekerjaan yang sangat mulia dan separuh waktu bisa dihabiskan bersama keluarga. (ist)
Read More ..
Minggu, 09 Maret 2014
Aliansi Jurnalis Independen (AJI)
Setelah itu, gerakan perlawanan terus mengkristal. Akhirnya, sekitar 100
orang yang terdiri dari jurnalis dan kolumnis berkumpul di Sirnagalih,
Bogor, 7 Agustus 1994. Pada hari itulah mereka menandatangani Deklarasi
Sirnagalih. Inti deklarasi ini adalah menuntut dipenuhinya hak publik
atas informasi, menentang pengekangan pers, menolak wadah tunggal untuk
jurnalis, serta mengumumkan berdirinya AJI. (int)Read More ..
Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI)
IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia), suatu asosiasi yang
menghimpun para jurnalis televisi dan didirikan pada era reformasi,
yakni pada bulan Agustus 1998, menyusul pengunduran diri Presiden
Soeharto. Pada saat itu, ratusan jurnalis televisi dari RCTI, TPI, SCTV,
Indosiar, dan ANTV berkumpul di Jakarta untuk melakukan kongres pertama
dan sepakat mendirikan IJTI dan memilih pengurus pertama organisasi
ini. (int)Read More ..
Kamis, 06 Maret 2014
Sambutan Hangat Masyarakat Pers untuk Dahlan Iskan
TOKOH PERS Dahlan Iskan (keempat dari kanan) dan isteri (kelima dari kanan), foto bersama mantan Ketua PWI Sulsel HM Alwi Hamu (kedua dari kanan), Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh (paling kiri), wartawan senior Harun Rasyid Djibe (kedua dari kiri) dan Nurdin Mangkana (ketiga dari kiri), serta beberapa pengurus PWI Sulsel, saat berkunjung ke Gedung PWI Sulsel, Jl AP Pettarani 31, Makassar, Rabu, 5 Maret 2014. (Foto: Asnawin)
Read More ..
Kamis, 30 Januari 2014
Kampus, Citra, dan Realita
CITRA. Realita di lapangan ternyata berbicara lain. Tidak sedikit alumni PTN yang menjadi pengangguran atau bekerja pada bidang yang tidak sesuai ijazahnya. Sebaliknya, cukup banyak alumni PTS yang sukses dalam karier dan usahanya. Di sisi lain, banyak PTN yang ribut saat pemilihan rektor. Banyak PTN yang mahasiswanya sering melakukan aksi unjukrasa anarkis. Tidak sedikit gedung kampus PTN yang dibakar oleh mahasiswanya sendiri. (Foto: Asnawin)
Read More ..
Sabtu, 11 Januari 2014
Perjuangan dalam Masa-masa Penulisan Skripsi
Tiga hari kemudian setelah permohonan penelitian saya diterima, saya pun mengalami hal yang tak pernah saya lupakan dalam hidup saya, yaitu menjadi seorang ibu. Saya melahirkan putri pertama saya di rumah sakit. Rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu. Penelitian saya pun jalan di tempat, tetapi saya bersyukur karena dikaruniai seorang putri. Kini tugas baru menanti, yaitu menjadi seorang ibu buat si kecil. Hari-hari saya penuh dengan tangisan si kecil, tapi itu penyemangat dalam hidup saya. (Foto: Asnawin)
Read More ..
Selasa, 19 November 2013
Ujian “Kesabaran” Berujung Pujian
DI STUDIO TV-ONE. Rahmawati (keempat dari kiri) dan beberapa rekannya mahasiswa UIN Alauddin Makassar, didampingi dosen UIN Alauddin Dr Firdaus Muhammad (kelima dari kiri), foto bersama Pemimpin Redaksi TV-One, Karni Ilyas (keempat dari kanan), di Studio TV-One, Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2013. (dok pribadi)
Read More ..
Read More ..
Kamis, 11 Agustus 2011
Nazaruddin, Wartawan, dan Media Massa
Melalui sikap yang skeptis, kebenaran itu dicari untuk kemudian dinyatakan atau diberitakan tanpa ragu. Dengan kata lain, wartawan harus selalu meragukan informasi awal yang diterimanya, agar tidak ragu-ragu dalam menyampaikan berita.
Nazaruddin, Wartawan, dan Media Massa
Oleh: Asnawin
(Pengurus PWI Cabang Sulsel)
Nazaruddin Ditangkap. Begitulah judul berita utama halaman satu harian Tribun Timur, Selasa, 9 Agustus 2011. Kalau berita itu betul dan kalau semuanya berjalan sesuai rencana, maka M Nazaruddin, akan kembali ke Indonesia setelah selama beberapa bulan “berobat” dan “jalan-jalan” ke beberapa negara.
Dan kalau mantan Bendahara Umum Partai Demokrat dan tersangka kasus suap Wisma Atlet SEA Games itu kembali ke Tanah Air, maka kita akan mengucapkan Selamat Datang Kembali Bung Nazar.
Pertanyaannya, apa yang akan terjadi setelah Bung Nazar-sapaan akrab M Nazaruddin seperti sering digunakan rekannya sesama anggota Partai Demokrat, Ruhut Sitompul- kembali ke Tanah Air?
Apakah semua yang pernah disampaikan melalui SMS, BBM, dan wawancara via telepon kepada beberapa media massa, akan dibuktikan di KPK dan di pengadilan nanti? Atau sebaliknya, apakah Bung Nazar tidak bisa membuktikan dan akhirnya dimasukkan ke dalam penjara dengan hukuman beberapa tahun?
Tulisan ini tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan juga tidak akan membahas masalah hukumnya, karena penulis juga bukan pakar hukum, tetapi tulisan ini hanya ingin mengingatkan kita semua tentang beberapa hal yang pernah dilakukan oleh Bung Nazar dan koleganya di Partai Demokrat yang diberitakan melalui berbagai media massa.
Beberapa bulan lalu, ketika Bung Nazar kabur ke luar negeri, sejumlah petinggi Partai Demokrat dengan enteng mengatakan bahwa Nazaruddin pergi berobat karena sakit dan pasti akan kembali ke Tanah Air.
Kenyataannya, Nazaruddin sehat-sehat saja, bahkan melakukan siaran langsung melalui stasiun televisi dalam keadaan sehat.
Pelajaran apa yang bisa dipetik dari rangkaian peristiwa tersebut? Penulis ingin mengingatkan kita semua bahwa berita adalah fakta, tetapi tidak semua fakta adalah berita. SMS dan BBM adalah fakta, tetapi tidak semua SMS dan BBM adalah berita.
Fakta-fakta yang terjadi di depan mata dengan melibatkan aktor eksekutif, legislatif, dan yudikatif, memang selalu menjadi berita menarik, tetapi wartawan harus tetap menjaga sikap skeptis. Jangan mudah percaya dengan informasi awal atau omongan pejabat publik.
Wartawan harus bersikap skeptis dan mewaspadai setiap informasi awal yang diterimanya. SMS, BBM, dan berbagai informasi awal yang diterima oleh wartawan harus dianggap belum tentu benar sampai kemudian dilakukan konfirmasi atau pengujian informasi.
Dalam dunia jurnalistik seperti sekarang ini, kata Atmakusumah Astraatmadja, informasi mudah diperoleh, tetapi media tetap harus menyertakan standarisasi Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Setiap wartawan wajib memiliki jiwa skeptis yang tidak mudah menjadikan sebuah informasi menjadi berita untuk dikonsumsi pembaca atau pemirsa. Informasi awal yang diperoleh harus diuji dengan melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi tersebut.
Skeptis, kata Tom Friedman dari New York Times, adalah sikap untuk selalu mempertanyakan sesuatu, meragukan apa yang diterima, serta mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah ditipu.
Bersikap Skeptis
Luwi Ishwara, mantan wartawan harian Kompas mengatakan, seorang yang skeptis berbeda dengan seorang yang sinis. Seorang yang skeptis akan berkata: “Saya kira itu tidak benar. Saya akan mengeceknya”. Sebaliknya, orang yang sinis selalu merasa telah mempunyai jawaban mengenai seseorang atau peristiwa yang dihadapinya, maka ia akan berkata: “Saya yakin itu tidak benar. Itu tidak mungkin. Saya akan menolaknya.”
Inti dari sikap skeptis, lanjut Luwi, adalah keraguan, sedangkan inti dari sikap sinis adalah ketidakpercayaan. Keraguan membuat orang akan bertanya, mencari, sampai menemukan kebenaran, sedangkan sikap sinis membuat kita menolak dan tidak bertindak, sehingga kebenaran pun bisa kabur.
Filsuf Rene Descartes dengan lantang mengatakan: “De omnibus dubitandum” (Segala sesuatu harus diragukan). Kalau mengacu pada pernyataan lantang tersebut , maka wartawan memang harus selalu bersikap skeptis dan tidak serta merta larut dalam kata “benar” yang muncul dari mulut penguasa, pimpinan parpol, atau orang-orang yang memiliki pengaruh luas di tengah masyarakat.
Maka sesungguhnya sangat rawan kalau media massa melakukan wawancara langsung dengan seseorang, apalagi dengan seorang buronan yang tidak jelas keberadaannya.
Wartawan harus skeptis pada kemampuan diri sendiri untuk mengetahui apa arti sesungguhnya dari sebuah peristiwa. Ini penting agar wartawan tidak memfatwa apalagi memvonis melalui berita.
Melalui sikap yang skeptis, kebenaran itu dicari untuk kemudian dinyatakan atau diberitakan tanpa ragu. Dengan kata lain, wartawan harus selalu meragukan informasi awal yang diterimanya, agar tidak ragu-ragu dalam menyampaikan berita.
Peristiwa Semu
Joseph Pulitzer pernah berkata bahwa surat kabar tidak akan bisa menjadi besar dengan hanya sekadar mencetak selebaran-selebaran yang disiarkan oleh pengusaha, maupun tokoh-tokoh politik dan meringkas tentang apa yang terjadi sehari-hari.
Wartawan, kata Pulitzer, harus terjun ke lapangan, berjuang, dan menggali hal-hal yang ekslusif. Ketidaktahuan membuka kesempatan korup, sedangkan pengungkapan mendorong perubahan. Masyarakat yang mendapat informasi lengkap, akan mendorong perbaikan dan reformasi.
Wartawan dan media massa kini terlalu banyak menyiram informasi kepada masyarakat, padahal belum tentu semua informasi tersebut benar adanya, serta tidak semua berita kontrol yang diberitakan menganut asas keseimbangan.
Lebih miris lagi, karena media massa dewasa ini terlalu banyak menyiramkan informasi dengan hanya berdasarkan omongan atau hasil wawancara (talking news), terutama melalui dialog-dialog di televisi, padahal sesungguhnya omongan, wawancara, jumpa pers dan semacamnya itu hanyalah sebuah peristiwa semu (pseudo-event).
Akibat “siraman” berita-berita tersebut, tumbuhlah berbagai macam persepsi, dugaan, sinisme, saling curiga, ketidakpercayaan, bahkan vonis secara tidak langsung terhadap pihak-pihak tertentu.
Dampak lain yang bisa timbul yaitu berkurangnya rasa persatuan dan kesatuan, berkurangnya semangat kebangsaan, terjadinya pengkotak-kotakan, serta perpecahan di tengah masyarakat. Itu semua terlihat nyata di depan mata kita. Masyarakat kini gampang marah, mudah diadu-domba, serta kerap bertindak anarkis ketika menyampaikan aspirasi.
Tentu tidak semua dampak tersebut akibat “siraman” informasi media massa, atau akibat dari “ketelanjangan” informasi melalui media massa, karena para pemimpin kita, mulai dari Presiden, anggota dewan (DPR RI, DPRD), gubernur, hingga walikota dan bupati, juga punya andil besar dalam hal ini.
Andil tersebut antara lain terejawantahkan melalui debat dan kata-kata kurang senonoh dalam sidang-sidang DPR RI yang disiarkan langsung media televisi dan ditonton jutaan rakyat, terjadinya “perselingkuhan” antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif, serta money politics dalam Pemilukada.
Fakta-fakta yang terjadi di depan mata dengan melibatkan aktor eksekutif, legislatif, dan yudikatif, memang selalu menjadi berita menarik, tetapi wartawan harus tetap menjaga sikap skeptis. Jangan mudah percaya dengan informasi awal atau omongan pejabat publik.
Wartawan dan media massa hendaknya menumbuhkan sikap skeptis dan selalu mewaspadai berbagai informasi awal yang diterimanya. Wartawan hendaknya terjun ke lapangan, berjuang, menggali hal-hal yang ekslusif, melakukan investigasi, serta berupaya menemukan fakta dan dokumen autentik, agar berita-berita yang disiarkan dapat dipertanggungjawabkan, serta tidak menyesatkan.
Media massa memang kini telah berubah menjadi industri, tetapi janganlah karena keinginan menarik minat masyarakat, memburu oplah besar, serta mencari keuntungan finansial, lalu melupakan tanggungjawab moral dalam mendidik dan menjaga bhinneka tunggal ika.
Keterangan:
- Artikel opini ini dimuat harian Tribun Timur, pada hari Kamis, 11 Agustus 2011
- http://makassar.tribunnews.com/epaper/index.php?hal=1#
Read More ..
Rabu, 08 Desember 2010
Fenomena Ilham dan Syahrul di Sulsel
Ada dua nama yang cukup fenomenal di Sulawesi Selatan pada tahun 2010, yaitu Ilham Arief Sirajuddin dan Syahrul Yasin Limpo. Keduanya begitu populer pada tahun 2010. Mereka berdua adalah newsmaker, pembuat berita. Hampir tiada hari tanpa berita tentang Ilham dan Syahrul pada koran-koran harian di Sulawesi Selatan sepanjang tahun 2010.
Read More ..
Kamis, 11 November 2010
Karya Tulis Wartawan Sangat Bermanfaat

JUARA. Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (kiri) menyalami Ketua Seksi Pendidikan PWI Sulsel, Asnawin, pada acara penyerahan hadiah juara Lomba Karya Tulis Jurnalistik HUT ke-341 Provinsi Sulawesi Selatan, di Kantor Gubernur Sulsel, Makassar, Kamis, 11 November 2010. (foto: m nasir/humas pemprov sulsel)
Read More ..
Rabu, 20 Oktober 2010
Catatan Atas Program Pendidikan dan Kesehatan Gratis di Sulsel

Terlepas dari berbagai kekurangan atau kontroversi yang berkembang mengenai program pendidikan dan kesehatan gratis di Sulsel, kita harus memberi apresiasi positif kepada Pemprov Sulsel, serta seluruh pemerintah kabupaten dan kota di daerah ini atas dilaksanakannya program pendidikan dan kesehatan gratis tersebut.
Read More ..
Selasa, 12 Oktober 2010
Mahasiswa Universitas Satria akan Studi Banding ke China
Mahasiswa program pascasarjana Universitas Satria Makassar berencana melakukan studi banding ke China awal 2011 mendatang. Usul itu dikemukakan oleh Direktur PPs Universitas Satria Prof Dr HM Tahir Malik MSi, kepada mahasiswa dalam beberapa kesempatan.
Read More ..
Minggu, 29 Agustus 2010
Mubalig Pop dan Dakwah Ramadan

Di pundak merekalah, istilah mubalig pop disematkan. Di pundak mereka pula, pameo ustad juga manusia (baca: harap dimaklumi) terlahir. Bila para ulama dirindukan oleh jamaah, maka mubalig pop dirindukan oleh fans-nya.
Read More ..
IPK Bukan Penentu Keberhasilan

Keberhasilan seseorang ditentukan banyak hal, terutama soft skill. Indeks prestasi kumulatif (IPK) bukanlah penentu keberhasilan, bahkan salah satu hasil penelitian internasional menunjukkan bahwa IPK hanya menempati urutan ke-17 dari 20 faktor penentu keberhasilan.
Read More ..
Langganan:
Postingan (Atom)














